Kemerdekaan untuk Kita Semua, Apakah Termasuk bagi OYPMK?

Situsanda.com – Apakah sukacita kemerdekaan, juga sama dirasakan oleh OYPMK? Apakah makna kemerdekaan bagi OYPMK juga sangat penting?

Baru saja kita memperingati Hari Kemerdekaan RI dengan penuh suka cita. Tentunya ini menjadi momen yang begitu berharga bagi kita semua.

Kemerdekaan membawa banyak suka dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan OYPMK? Apakah makna kemerdekaan masih bisa dirasakan oleh mereka?

Kali ini saya akan bercerita bagaimana OYPMK atau kepanjangannya Orang Yang Pernah Mengalami Kusta memaknai kemerdekaannya, meski di sisi lain penyandang ini masih dikucilkan di negara kita.

Simak terus, ya!

Kemerdekaan bagi OYPMK

Kemerdekaan bagi OYPMK
Sesi streaming bersama Ruang Publik KBR

Orang yang pernah mengalami kusta atau OYPMK berada dekat dengan kita.

Apakah bagi mereka kemerdekaan masih terasa sebagai momen yang berharga dan penuh suka cita?

Topik ini diperbincangkan secara lugas dalam acara Live YouTube Ruang Publik KBR dengan 2 narasumber hebat.

Narasumber pertama adalah Dr. Mimi Mariani Lusli dan seorang aktivis bernama Marsinah Dhedhe.

Keduanya merupakan OYPMK dan memiliki catatan prestasi yang membanggakan.

Tentunya kedua narasumber ini memaknai kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda.

Khususnya dari sudut pandang OYPMK yang sampai sekarang masih harus berjuang agar bisa bermasyarakat dengan normal seperti lainnya.

Merdeka bagi OYPMK memang tidaklah mudah.

Stigma masyarakat mengenai kondisi mereka begitu kuat dan cenderung mengarah ke hal-hal yang bersifat negatif.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi OYPMK untuk bisa berbaur dan bersosialisasi di tengah masyarakat.

Saling Mendukung bersama OYPMK

Saya sangat sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Dr.Mimi saat sesi streaming di hari Rabu lalu.

Bahwa support system’ bagi para OYPMK adalah orang terdekat, juga masyarakat di sekitarnya.

Mereka bisa bangkit dan terus melanjutkan hidupnya dengan semangat berkat dukungan yang ada.

Karena beliau merasakan sendiri, Dr. Mimi sebagai seorang penyandang disabilitas tuna netra, tepatnya degenerasi retina sejak usia 17 tahun. Tentu ini bukan hal mudah bukan?

Tetapi, sekalipun disabilitas, Dr.Mimi tidak menganggapnya sebuah kekurangan. Justru, dia berpikir life must go on. 

Menjadikan kekurangan sebagai kelebihan. Hingga beliau pun bangkit dengan cara mewujudkan mimpi untuk kuliah di kampus terkemuka dunai Leeds University, Inggris.

Setelah lulus, beliau menunjukkan bukti bahwa Dr. Mimi bukan penyandang disabilitas biasa.

Dia mendirikan Mimi Institute, sebuah lembaga yang memiliki visi mulia, yakni  agar penyandang disabilitas mempunyai kehidupan yang lebih baik, dan dapat meraih mimpinya.

Sungguh sangat luar biasa bukan?

Kemerdekaan bagi OYPMK

Tidak perlu menuding orang lain, mari mulai dari diri sendiri.

Mari menjadi bagian dari support system tersebut sehingga bisa memberikan semangat dan motivasi bagi para OYPMK di tengah kehidupan bermasyarakat.

Salah satu cara termudah adalah dengan menggunakan kata OYPMK untuk menyebut para penyintas kusta.

OYPMK menjadi sebuah istilah yang tepat untuk mengubah stigma bahwa penyintas kusta itu buruk dan harus dihindari.

Istilah ini akan membuka literasi masyarakat mengenai kondisi penyintas kusta dan apa saja yang harus dilakukan saat menghadapi mereka.

Sementara itu Marsinah menyampaikan pengalaman yang dialami sendiri sebagai penyintas kusta.

Sebagai OYPMK, proses untuk bersosialisasi dengan masyarakat umum tidaklah mudah.

Support system memang sangat dibutuhkan dalam hal ini dan menjadi faktor besar yang berpengaruh pada kehidupan OYPMK di masa mendatang.

Marsinah juga menceritakan kisahnya dikucilkan dari masyarakat sehingga benar-benar butuh dukungan positif dari keluarga serta orang-orang di sekitarnya.

Ini sangat sesuai dengan pernyataan Dr. Mimi yang menyebutkan bahwa OYPMK butuh support system yang kuat, terutama dari keluarga inti dan tentu saja dari masyarakat di sekitarnya.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa ada bagian dari masyarakat Indonesia yang ternyata belum sepenuhnya merdeka.

Masih ada yang harus diselesaikan hingga kemerdekaan itu benar-benar bisa dirasakan oleh mereka.

Khususnya bagi OYPMK yang masih merasa terkurung dalam stigma masyarakat.

Perjuangan bagi OYPMK

Kemerdekaan RI tahun ini kembali menjadi sebuah peringatan yang berarti bagi para OYPMK.

Namun, peringatan tersebut bukan menjadi tanda bahwa perjuangan sudah berakhir.

Justru para OYPMK masih harus terus berjuang untuk melenyapkan stigma negatif dari masyarakat.

Tidak hanya bagi OYPMK, perjuangan juga masih berlaku bagi seluruh masyarakat.

Berjuang untuk menerima OYPMK dengan pemikiran positif. Masih banyak yang harus dilalui demi kehidupan bermasyarakat yang jauh lebih baik bersama para OYPMK di tengah-tengah kita.

Mari bersama-sama lenyapkan stigma negatif tentang OYPMK dan menjadi support system yang baik bagi mereka.

Bagaimanapun juga OYPMK adalah bagian dari kita.

Pelajari baik-baik kondisi mereka supaya tidak seenaknya sendiri menarik kesimpulan dan menjadikannya alasan untuk menjauhi OYPMK.

Hentikan tindakan mengucilkan para penyintas kusta dan rangkul bersama untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.